Sunday, May 22, 2016

Gunung Arjuno

Gunung Arjuno (terkadang dieja Gunung Arjuna) adalah sebuah gunung berapi kerucut (istirahat) di Jawa Timur, Indonesia dengan ketinggian 3.339 m dpl. Gunung Arjuno secara administratif terletak di perbatasan Kota Batu, Kabupaten Malang, dan Kabupaten Pasuruan dan berada di bawah pengelolaan Taman Hutan Raya Raden Soerjo. Gunung Arjuno merupakan gunung tertinggi ketiga di Jawa Timur setelah Gunung Semeru dan Gunung Raung, serta menjadi yang tertinggi kelima di Pulau Jawa. Biasanya gunung ini dicapai dari tiga titik pendakian yang cukup dikenal yaitu dari Lawang, Tretes dan Batu. Nama Arjuno berasal dari salah satu tokoh pewayangan Mahabharata, Arjuna.


Gunung Arjuno bersebelahan dengan Gunung Welirang, Gunung Kembar I, dan Gunung Kembar II. Puncak Gunung Arjuno terletak pada satu punggungan yang sama dengan puncak gunung Welirang, sehingga kompleks ini sering disebut juga dengan Arjuno-Welirang. Kompleks Arjuno-Welirang sendiri berada di dua gunung berapi yang lebih tua, Gunung Ringgit di timur dan Gunung Lincing di selatan. Area fumarol dengan cadangan belerang ditemukan di sejumlah lokasi pegunungan ini.


Gunung Arjuno merupakan salah satu tujuan pendakian. Di samping tingginya yang telah mencapai lebih dari 3000 meter, di gunung ini terdapat beberapa objek wisata. Salah satunya adalah objek wisata air terjun Kakek Bodo yang juga merupakan salah satu jalur pendakian menuju puncak Gunung Arjuno. Meskipun selain objek wisata air terjun Kakek Bodo terdapat pula air terjun lain, tetapi para wisatawan jarang yang mendatangi air terjun lainnya, mungkin karena letak dan sarana wisatanya kurang mendukung. Di kawasan lerengnya juga terdapat mata air Sungai Brantas yang berasal dari simpanan air Gunung Arjuno. Mata air Sungai Brantas terletak di Desa Sumber Brantas, Bumiaji, Kota Batu yang merupakan sungai terpanjang kedua di Pulau Jawa setelah Sungai Bengawan Solo. Beberapa destinasi wisata yang terkenal hingga ke seluruh Indonesia maupun luar negeri juga terletak di lereng Gunung Arjuno, di antaranya adalah Tretes, Kota Wisata Batu, dan Taman Safari Indonesia 2.


Gunung Arjuno mempunyai kawasan hutan Dipterokarp Bukit, hutan Dipterokarp Atas, hutan Montane, dan Hutan Ericaceous atau hutan gunung.



Gunung Arjuno dapat didaki dan berbagai arah, arah Utara (Tretes) melalui Gunung Welirang, dan arah Timur (Lawang) dan dari arah Barat (Batu-Selecta), dan arah selatan (Karangploso), juga dari Sumberawan, Singosari. Desa Sumberawan adalah desa pusat kerajinan tangan di kecamatan Singosari, Kabupaten Malang dan merupakan desa terakhir untuk mempersiapkan diri sebelum memulai pendakian. Bisa juga melewati Purwosari yang lebih gampang dilewati, karena hanya setengah jam dari jalan raya dan langsung sampai di Tambakwatu.

Saturday, May 21, 2016

Waduk Karangkates

Waduk Ir. Sutami, disebut juga Bendungan Sutami, Waduk Karangkates, atau Bendungan Karangkates, merupakan bendungan yang menciptakan suatu waduk karena tertahannya aliran Sungai Brantas. Waduk ini terletak di Kecamatan Sumberpucung, Kabupaten Malang, Provinsi Jawa Timur, Indonesia. Bendungan ini dikelola oleh Perum Jasa Tirta I. Air waduk ini berasal dari mata air di Gunung Arjuno dan ditambah air hujan.




Waduk Ir. Sutami mempunyai fungsi sebagai:

Pengendali banjir dengan kala ulang 50 tahun setara 1.650 m3/detik,
Pembangkit listrik dengan daya 3 x 35.000 kWh (488 juta kWh/tahun),
Penyediaan air irigasi 24 m³/dt pada musim kemarau (seluas 34.000 ha) melalui pengaliran ke hilir,
Pariwisata dan perikanan darat.
Pariwisata di waduk Ir Sutami saat ini dikelola oleh PJB (PT Pembangkitan Jawa-Bali) setelah sebelumnya dikelola oleh Perum Jasa Tirta I.

Perikanan disini dilakukan oleh warga setempat dengan menggunakan jaring terampung yang biasa disebut kerramba (warga menyebut kerambak). Pemeliharaan ikan dengan memanfaatkan perairan di waduk Ir Sutami ini terjadi semenjak era reformasi, yang sebelumnya menangkap dan memelihara ikan di perairan ini dilarang oleh pihak pemilik bendungan.





Selain manfaat sebagai sarana pariwisata dan perikanan, Bendungan Sutami yang juga biasa disebut "dam" oleh masyarakat setempat ini juga memiliki manfaat lain, yaitu digunakan sebagai akses oleh para pengentara motor untuk melintas pada siang hari dengan membayar karcis. Mereka yang sering melintas mayoritas adalah warga yang tinggal di wilayah selatan waduk, seperti warga Kalipare dan Donomulyo.

Friday, May 20, 2016

coba supit urang

Coban Supit Urang secara administratif terletak di desa Madiredo kec.Pujon kab.Malang. Coban Supit Urang termasuk salah satu dari 3 coban yang  baru ditemukan oleh warga sekitar 1 bulan yang lalu dan sekitar 1 minggu yang lalu ada beberapa mahasiswa yang KKN disini. Untuk coban Supit Urang terdiri dari 2 air terjun, Supit Urang bawah dan Supit Urang atas, dan diatas coban Supit Urang atas terdapat coban Watu Talang.

Untuk menuju ke coban supit urang, dari kota Malang ikuti petunjuk ke Batu lalu ikuti petunjuk ke Kediri/Jombang sampai masuk kec. Pujon. Tak jauh setelah melewati taman makam pahlawan (sisi kiri jalan) disisi kanan jalan ada gang yang di depan gang terdapat masjid dan papan petunjuk dibawah ini.

Masuk saja ke gang tersebut dan ikuti jalan lalu tanya warga arah ke desa Madiredo. Sampai didesa Madiredo tanya warga arah jalan ke coban Supit Urang, dan selama perjalanan saya sarankan banyak2 bertanya sama warga yang bekerja di kebun/ladang karena akses jalan cukup membingungkan.


Untuk menuju ke coban supit urang atas,dari coban supit urang bawah kembalilah ke percabangan terakhir lalu belok kiri (jika dari arah berangkat belok kanan) dan ikuti jalan setapak tersebut. Perlu diketahui bahwa akses jalan menuju ke supit urang atas cukup menguras tenaga karena akses jalan nanjak dan memutari tebing, bahkan akses untuk turun kebawah coban supit urang atas tak begitu terlihat dan sangat curam serta rawan longsor jika musim hujan.

Thursday, May 19, 2016

Pantai Watu Leter

Pantai Watu Leter adalah sebuah pantai di pesisir selatan yang terletak di tepi Samudera Indonesia secara administratif berada di Dusun Rowotrate, Desa Sitiarjo, Kecamatan Sumbermanjing Wetan, Kabupaten Malang, Jawa Timur[1]. Pantai ini terletak bersebelahan dengan Pantai Goa China. Tetapi pantai ini masih belum banyak dikenal orang karena letaknya terpencil dan jarang sekali dikunjungi oleh wisatawan. Dari Kota Malang berjarak sekitar 60 km dan dapat ditempuh sekitar 3 jam perjalanan dengan kendaraan bermotor. Untuk mencapainya dari Kota Malang bisa mengambil arah selatan menuju Sumbermanjing Wetan dan mengikuti arah menuju ke Pantai Sendangbiru. Lalu terdapat sebuah pertigaan dengan papan petunjuk arah ke kanan akan menuju ke Pantai Bajulmati dan Goa China.


Untuk mencapai Pantai Watu Leter kita harus melalui Pantai Goa China terlebih dahulu. Di tengah perjalanan, pengunjung bisa menikmati pegunungan selatan dan jalan yang berkelok-kelok. Juga terlihat hamparan sawah yang memisahkan antara jalan raya dengan perbukitan. Sekitar satu kilometer ke arah timur dari jembatan di Bajulmati, ada pintu masuk menuju Pantai Goa China. Dari jalan lintas selatan menuju Pantai Goa China jalan cukup rusak sehingga agak kesulitan dilalui kendaraan bermotor. Banyak bebatuan kapur di jalan dan bila pada musim hujan sangat licin. Sebelum memasuki Pantai Goa China pengunjung akan melewati Jembatan Bajulmati yang berada di atas sebuah muara.


Akses menuju ke Pantai Watu Leter agak sulit. Jalannya sempit dan mobil tidak akan bisa melaluinya. Pengunjung harus memasuki hutan bakau dan melewati jalan berbatu yang cukup tajam. Setelah itu melewati jalan berumput liar yang tajam dan tinggi. Barulah setelah itu akan tiba di pantai Watu Leter. Untuk mencapai pantai, kita masih harus turun dari gundukan tanah sekitar 1,5 meteran. Anda bisa memarkirkan motor di situ, dan selanjutnya berjalan kaki menuju ke Pantai Watu Leter. Pantai Watu Leter bisa juga ditempuh dari Goa China dan medannya tidak terlalu sulit. Jika telah tiba di Pantai Goa China, pengunjung bisa melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki ke arah barat sejauh sekitar 100 m. Jalur yang akan dilalui berupa jalan setapak dan sekitar 25 menit berjalan pengunjung akan sampai di Pantai Watu Leter.

Perjalanan yang melelahkan akan terpuaskan dengan keindahan Pantai Watu Leter ini. Pantai Watu Leter ini hampir mirip suasananya dengan Pantai Goa China. Bedanya pantai ini jauh lebih sepi, sehingga tampak lebih bersih daripada Pantai Goa China. Pantainya pun tampak lebih jernih dan terlihat lebih hijau daripada Pantai Goa China. Panorama pantainya sangat indah, batu karang di pantai tampak timbul tenggelam di sapu ombak yang tenang. Di Pantai Watu Leter ini pantainya mirip sebuah kolam. Airnya pun lebih dingin daripada air di Pantai Goa China. Ombaknya mengalun tenang, disertai pasirnya yang berwarna putih bersih dan lembut.


Selain keindahan pesisir pantai dengan pulau-pulau kecil di tengah-tengahnya, kawasan itu juga menjadi tempat pendaratan penyu untuk bertelur. Ada juga hutan mangrove dikelilingi air payau yang tenang. Sebuah Sungai Sitiarjo yang bermuara di Pantai Watu Leter menyajikan pemandangan yang indah. Pengunjung bisa juga menyisiri sungai yang bermuara di Pantai Watu Leter dengan menggunakan perahu. Suasana pantai sangat menyenangkan, dengan menyisiri sungai yang dipenuhi tanaman mangrove di sisi kiri dan kanannya.


Menurut penduduk, pantai ini diberi nama Watu Leter karena salah satu tebing pada bagian ujungnya berbentuk datar. Tebing atau batuan di tengah laut yang berbentuk datar itu bila dilihat sangat menonjol di antara bebatuan tebing yang lain. Sebagian orang menyebutnya dengan Pantai Ngleter. Pemandangan Pantai Watu Leter sangat indah, karang-karangnya masih dalam kondisi bagus. Pasirnya putih, pantainya masih asri dan tidak terlihat sampah di sepanjang pantai. Pantai ini juga cocok bila dipergunakan untuk camping.


Kawasan Pantai Watu Leter ini biasanya dijadikan lokasi pelepasan penyu abu-abu karena lingkungan pantai masih sepi dari para wisatawan. Masih aslinya Pantai Watu Leter membuatnya terpilih untuk menjadi pusat pelestarian penyu dan ekowisata. Jika upaya pelestarian penyu itu berhasil, pengunjung bisa melihat dari dekat kehidupan penyu saat menepi dan bertelur di pasir pantai.

Wednesday, May 18, 2016

cuban Tundo

Satu lagi keindahan Kabupaten Malang yang berhasil saya kunjungi. Coban Tundo namanya. Kurangnya informasi yang beredar di internet membuat saya penasaran dengan keindahan air terjun Coban Tundo.


Berangkat dari Kota Malang sekitar pukul 04.30 WIB, saya dan 2 orang teman tiba di kantor kelurahan / desa Sukodono (Kec Dampit – Kab Malang) sekitar pukul 07.30 WIB. Durasi perjalanan hingga mencapai Sukodono yang memakan waktu sekitar 180 menit sebenarnya bisa dipangkas hingga 120 menit jika tidak tersesat.


Setelah tiba di kantor kelurahan Sukodono, kami tidak kesulitan lagi menemukan jalan menuju Coban Tundo. Sangat jelas sekali petunjuk jalan yang diberikan oleh warga sekitar. Di kantor kelurahan Sukodono bahkan sampai dibuatkan banner berukuran sekitar 3 x 1 meter yang berisi arah penunjuk jalur menuju Coban Tundo.
Lepas dari kantor kelurahan Sukodono akan kita lewati jalur beton yang bisa dilewati mobil hingga tiba di gerbang jalur setapak. Ada juga jalur aspal rusak membelah perkampungan yang sesekali diselingi dengan kebun milik warga. Petunjuk jalan berupa panah dan tulisan “Tundo 3” berwarna biru sangat jelas terlihat. Sangat membantu kami yang tidak tahu arah saat itu.


Memasuki gerbang jalur setapak, mobil sudah tidak bisa melanjutkan perjalanan. Beberapa rumah warga yang memiliki halaman luas dapat dijadikan sebagai tempat parkir mobil. Selain itu mereka juga menyediakan jasa ojek (biaya sekitar Rp 30 – 50 ribu) untuk mengantar pengunjung menuju Coban Tundo hingga kembali lagi ke tempat parkir mobil. Jika Anda menggunakan motor, lanjutkan saja perjalanan hingga mencapai tempat parkir motor yang ada di dekat Coban Tundo.
Petualangan dimulai ketika kita melewati jalur setapak. Jalur tanah, beton, tanah berbatu, turunan dan tanjakan yang menghubungkan perkebunan kopi sangat mengasyikkan bagi penyuka wisata tantangan. Sesekali akan kita temui warga yang menuju / kembali dari kebun membawa peralatan bertani di motornya. Ternyata mereka sudah terbiasa dengan kehadiran pengunjung. Kami yang sesekali berhenti untuk istirahat selalu disapa dan bahkan diajak ngobrol sebentar. Sungguh kearifan lokal Indonesia yang masih terjaga.


Tidak sedikit warga yang berhenti dan mengingatkan kami untuk berhati-hati melewati jalan setapak. Bahkan ada juga yang menawarkan diri untuk membantu mengendarai motor kami. Itu mereka lakukan karena jalur yang kami lewati relatif berbahaya bagi yang tidak terbiasa dengan jalur menantang. Daripada mengorbankan nyawa dan atau material, ada baiknya jika Anda menggunakan ojek sejak gerbang masuk jalur setapak.
Setelah sekitar 60 menit melewati jalur setapak, kami tiba di area parkir motor Coban Tundo. Kami harus jalan kaki selama 5 menit melewati kebun kopi hingga tiba di Coban Tundo 1. Coban Tundo 1 merupakan air terjun yang letaknya paling atas. Cekungan yang menampung aliran air terjun memiliki kedalaman sekitar 2 meter. Naungan pohon besar di atas air terjun memungkinkan kita untuk tetap menikmati berenang di Coban Tundo 1 tanpa khawatir gosong terkena sinar matahari. Jika tidak bisa berenang, jangan khawatir karena warga sekitar menyewakan ban Rp 5.000 / buah untuk pemakaian sepuasnya.



Ada air terjun lainnya yang terletak di bawah Coban Tundo 1, yakni Coban Tundo 2. Menurut saya, Coban Tundo 2 merupakan air terjun yang paling indah di kawasan air terjun Coban Tundo ini. Dari Coban Tundo 1 kita harus jalan kembali naik dan turun bukit sekitar 10 menit. Setelah mendekati cekungan (kolam) air terjun, kita harus menuruni tangga yang tingginya sekitar 3 meter.

Tuesday, May 17, 2016

Pantai Parangtritis, Jogja

Pantai Parangtritis adalah tempat wisata terbaik untuk menikmati sunset sambil having fun menaklukkan gundukan pasir dengan ATV (All-terrain Vechile) ataupun menyusuri pantai dengan bendi dalam senja yang romantis.
Pantai Parangtritis terletak 27 km selatan Kota Jogja dan mudah dicapai dengan transportasi umum yang beroperasi hingga pk 17.00 maupun kendaraan pribadi. Sore menjelang matahari terbenam adalah saat terbaik untuk mengunjungi pantai paling terkenal di Yogyakarta ini. Namun bila Anda tiba lebih cepat, tak ada salahnya untuk naik ke Tebing Gembirawati di belakang pantai ini. Dari sana kita bisa melihat seluruh area Pantai Parangtritis, laut selatan, hingga ke batas cakrawala.




Pssst, YogYES akan memberitahu sebuah rahasia. Belum banyak orang tahu bahwa di sebelah timur tebing ini tersembunyi sebuah reruntuhan candi. Berbeda dengan candi lainnya yang terletak di daerah pegunungan, Candi Gembirawati hanya beberapa ratus meter dari bibir Pantai Parangtritis. Untuk menuju candi ini, kita bisa melewati jalan menanjak dekat Hotel Queen of the South lalu masuk ke jalan setapak ke arah barat sekitar 100 meter. Sayup-sayup gemuruh ombak laut selatan yang ganas bisa terdengar dari candi ini.




Pantai Parangtritis sangat lekat dengan legenda Ratu Kidul. Banyak orang Jawa percaya bahwa Pantai Parangtritis adalah gerbang kerajaan gaib Ratu Kidul yang menguasai laut selatan. Hotel Queen of the South adalah sebuah resort yang diberi nama sesuai legenda ini. Sayangnya resort ini sekarang sudah jarang buka padahal dulu memiliki pemandangan yang sanggup membuat kita menahan nafas.

Kuburan Kintamani , Bali

Desa Trunyan merupakan sebuah desa kuno di tepi danau Batur, Kintamani,Kabupaten Bangli. Desa ini merupakan sebuah desa Bali Aga, Bali Mula dengan kehidupan masyarakat yang unik dan menarik Bali Aga, berarti orang Bali pegunungan, sedangkan Bali Mula berarti Bali asli. Kebudayaan orang Trunyan mencerminkan satu pola kebudayaan petani yang konservatif.


Berdasarkan folk etimologi, penduduk Trunyan mempersepsikan diri dan jati diri mereka dalam dua versi. Versi pertama, orang Trunyan adalah orang Bali Turunan, karena mereka percaya bahwa leluhur mereka ‘turun’ dari langit ke bumi Trunyan. Terkait dengan versi ini, orang Trunyan mempunyai satu mite atau dongeng suci mengenai asal-usul penduduk Trunyan adalah seorang Dewi dari langit. Versi kedua, orang Trunyan hidup dalam sistem ekologi dengan adanya pohon Taru Menyan, yaitu pohon yang menyebarkan bau-bauan wangi. Dari perdaduan kata “taru” dan “menyan” berkembang kata Trunyan yang dipakai nama desa dan nama penduduk desa tersebut.


Desa Trunyan terletak di sebelah timur bibir danau Batur, letak ini sangat terpencil. Jalan darat dari Penelokan, Kintamani, hanya sampai di desa Kedisan. Dari Kedisan ke desa Trunyan orang harus menyeberang danau Batur selama 45 menit dengan perahu bermotor atau 2 jam dengan perahu lesung yang digerakkan dengan dayung. Selain jalan air, Trunyan juga dapat dicapai lewat darat, lewat jalan setapak melalui desa Buahan dan Abang. Hawa udara desa Trunyan sangat sejuk, suhunya rata-rata 17 derajat Celcius dan dapat turun sampai 12 derajat Celcius. Danau Batur dengan ukuran panjang 9 km dan lebar 5 km merupakan salah satu sumber air dan sumber kehidupan agraris masyarakat Bali selatan dan timur.


Secara spesifik, terkait dengan kepercayaan orang Trunyan mengenai penyakit dan kematian, maka cara pemakaman orang Trunyan ada 2 macam yaitu:
Meletakkan jenazah diatas tanah dibawah udara terbuka yang disebut dengan istilah mepasah. Orang-orang yang dimakamkan dengan cara mepasah adalah mereka yang pada waktu matinya termasuk orang-orang yang telah berumah tangga, orang-orang yang masih bujangan dan anak kecil yang gigi susunya telah tanggal.

Dikubur / dikebumikan. Orang-orang yang dikebumikan setelah meninggal adalah mereka yang cacat tubuhnya, atau pada saat mati terdapat luka yang belum sembuh seperti misalnya terjadi pada tubuh penderita penyakit cacar, lepra dan lainnya. Orang-orang yang mati dengan tidak wajar seperti dibunuh atau bunuh diri juga dikubur. Anak-anak kecil yang gigi susunya belum tanggal juga dikubur saat meninggal.

Penjelasan mengapa mayat yang menggeletak begitu saja di sema itu tidak menimbulkan bau padahal secara alamiah, tetap terjadi penguraian atas mayat-mayat tersebut ini disebabkan pohon Taru Menyan tersebut, yang bisa mengeluarkan bau harum dan mampu menetralisir bau busuk mayat. Taru berarti pohon, sedang Menyan berarti harum. Pohon Taru Menyan ini, hanya tumbuh di daerah ini. Jadilah Tarumenyan yang kemudian lebih dikenal sebagai Trunyan yang diyakini sebagai asal usul nama desa tersebut.